Kesan
pertama yang gue bilang saat ada seorang teman yang mengatakan dia sedang jatuh
cinta pada pandangan pertama kepada seorang cewek yang baru dia lihat adalah “Bullshit”. Maksud gue adalah bagaimana
bisa seseorang jatuh cinta kepada orang yang sama sekali belum pernah bertemu
sebelumnya. Setidaknya harus ada proses yang menjadikan seseorang jatuh cinta.
Misalkan lu deket sama cewek terus cewek itu baik banget dan perhatian sama lu
dan lama-lama lu ngerasa suka dan akhirnya jatuh cinta. Nah kalau kayak gitu
baru gue percaya karna jelas proses dan alasannya. Menurut gue setidaknya cinta
itu akan muncul saat dua orang saling memberikan perasaan positif terhadap satu
sama lain. Tapi jatuh cinta pada pandangan pertama? Hanya orang melankolis yang
dapat mempercayai itu semua. Itu adalah hal yang akan gue katakan kepada
seorang teman yang ngajak gue buat debat tentang cinta pada pandangan pertama,
gue sama sekali tidak percaya dengan hal itu. Itu tidak ilmiah, alasan yang
selalu gue katakan kepada Ben sahabat gue yang selalu bilang bahwa dia jatuh
cinta kepada setiap wanita yang dia temui di mall, di bioskop atau di tempat
umum lainnya. Gue selalu meledek jika dia kembali mengulang kata itu lagi. Tapi
sekarang gue seakan termakan oleh semua omangan gue sendiri saat melihat
seorang cewek cantik yang baru saja memasuki pintu cafe yang menjadi tempat gue
dan Ben sekarang nongkrong. Gue terpaku saat melihat cewek itu berjalan mengekor
dibelakang satu cewek lagi yang berjalan di depannya. Mata gue terus mengikuti
cewek itu yang sekarang berjalan kearah meja gue. Dia berjalan kearah gue
membuat jantung gue tiba-tiba terkena serangan jantung mendadak. Apakah hal ini
juga yang selalu Ben alami saat dia bilang dia sedang jatuh cinta pada
pandangan pertama?
“Benny.”
Ujar lembut cewek yang tadi berjalan mendahului cewek cantik itu. Dia memanggil
nama Ben sahabat gue. Jadi dia benar-benar berjalan kearah gue tadi? “sorry aku telat.” Ujarnya lagi sambil
tersenyum kepada Benny.
“gapapa
kok, aku juga baru dateng.” Jawab Ben sambil membalas senyuman manis cewek itu
kemudian menyuruh mereka berdua duduk, dia duduk tepat dihadapan gue.
Sepertinya cewek itu adalah pacar baru Ben. Kami disini karena Ben dan pacarnya
janjian untuk ketemuan. Tapi siapa cewek satu lagi? apa Ben mengenalnya juga?
“nyon kenalin ini temenku Aga.” Sambung Ben sambil menepuk bahu gue.
“aku
indah.” Sapa pacar Ben sambil mengulurkan tangannya. “Benny sering cerita
tentang kamu.” Sambungnya sambil sedikit terkekeh membuat gue curiga Ben
membicarakan hal yang bukan-bukan tentang gue.
“Aga.”
Balas gue sambil menyambut uluran tangan indah.
“oh iya ini Inga, aku ngajak dia ikut soalnya
dia lagi galau gara-gara berantem sama pacarnya.” Katanya setelah melepaskan
tangan gue. Gue sedikit kecewa karna cewek cantik bernama Inga ini ternyata
udah punya pacar. “gue takut dia ngelakuin hal yang enggak-enggak kalau
ditinggalin. Gapapa kan Ben?” katanya lagi dengan nada meledek kepada Inga yang
dibalas anggukan oleh Ben.
“apaan
sih ndah. Gue gak galau ya gue Cuma kesel aja.” Kata Inga cemberut. Inga
kemudian melihat kepada Ben. “gue inga.” Sapanya sambil mengulurkan tangan
kepada Ben kemudian dia melihatku setelah Ben melepaskan jabatan tangannya. “Inga.”
Ujarnya lembut sambil mengulurkan tangannya kepada gue, dan dia tersenyum
sangat sangat manis membuat gue berpikir bahwa mungkin cewek cantik yang duduk
dihadapan gue ini sebenarnya adalah seorang bidadari yang sedang menyamar
menjadi sahabatnya Indah. Setelah proses saling kenalan dan jabat tangan kami
langsung memesan minum dan terus berbincang-bincang. Inga banyak tertawa karena
mendengar celetukan atau candaan yang Ben lontarkan, sedangkan gue banyak
tersenyum karena senang melihat ada cewek cantik dihadapan gue.
“eh
kalian anak taruna baktikan?” tanya Indah membuat gue sedikit tersentak. Tadi
gue lagi curi-curi pandang sama Inga. “pasti kenal dong sama Ugi.” Katanya
lagi.
“anak
basket?” tanya Ben yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Indah. “kamu kok
kenal sih sama si Ugi?” sambung Ben, nada bicaranya sedikit berubah setelah
mendengar nama Ugi disebut. Bagaimana tidak, si Ugi itu adalah kakak kelas kami
yang pernah membuat gue, Ben, dan dua orang lagi teman kami harus dikeluarkan
dari tim basket sekolah setahun yang lalu. Hal itulah yang membuat gue dan Ben
bermusuhan dengannya sampai sekarang.
“dia
pacarnya Inga.” Kata Indah membuatku semakin kecewa. Kenapa dari semua cowok
yang ada didunia harus orang itu yang menjadi pacar cewek yang membuat gue
jatuh cinta pada pandangan pertama untuk pertama kalinya.
~~~
Salah
satu hal yang paling nyebelin di dunia ini adalah saat lo jatuh cinta sama
cewek tapi ternyata cewek itu udah punya cowok dan parahnya cowok itu adalah
musuh lo sendiri. Gue sadar gue bener-bener jatuh cinta pada pandangan pertama
ke Inga yaitu karena setelah gue pulang dari cafe yang menjadi tempat
bersejarah pertemuan gue dan Inga itu gue sama sekali gak bisa ngelupain wajah
cantik Inga, caranya tersenyum, caranya tertawa, tatapan matanya saat ngeliat
gue ngomong pokoknya semua hal yang Inga lakuin saat itu bener-bener terekam
oleh otak gue. Dan setelah hari itu intensitas gue bertemu dengan Inga bisa
dibilang sering, karena biasanya baik Inga maupun gue sama-sama suka ngekorin
Ben dan Indah pacaran. Bukannya gue gak ada kerjaan lain hingga mau ngikutin
orang yang pacaran tapi karena Ben dan Indah selalu aja ngajak gue kalau mereka
mau kencan. Gue sih mau-mau aja karena gue tahu pasti Inga juga bakal ikut jadi
gue mau aja sekalian nonton gratis di bayarin mereka dan bisa mandangin wajah
cantik Inga sepuasnya dan yang paling penting gue bisa banyak ngobrol sama
Inga.
Selama
tiga bulan terakhir ini gue udah memperhatikan Inga, dari mulai cara ngomongnya
ampe cara berpikir Inga dan selama tiga bulan terakhir ini juga gue bisa kenal
Inga lebih jauh. Gue tahu tanggal lahir Inga, gue tahu hobi Inga, gue tahu film
favorit Inga, gue tahu Inga ngefans banget sama Shinici Kudou, gue tahu Inga
suka banget sama Ika Natassa (gue gak tahu siapa dia), gue tahu Inga cewek yang
enak di ajak ngobrol, gue tahu Inga gak suka sama cowok yang ngerokok (membuat
gue bertekad untuk tobat dari ngisep rokok), dan sekarang gue baru tahu kalau
Inga ternyata penggila drama Korea yang sekarang lagi menjajah kaula muda
Indonesia.
“jadi
kenapa Lo suka nonton drama korea?” tanya gue setelah Inga bilang dia lagi
nonton drama korea yang judulnya mirip sama tokoh dongeng anak-anak.
“karena
ceritanya bagus.” Jawabnya tegas. Gue dan Inga sekarang duduk berhadapan
disebuah Cafe, disebelah gue ada Ben yang juga lagi ngobrol sama Indah yang
duduk disamping Inga. “ceritanya mendidik dan menurut gue sih banyak ngasih
hal-hal positif yang bisa kita pelajarin.”
“emang
di Indonesia gak ada drama yang bagus ampe jauh-jauh nonton drama negeri lain?”
tanya gue lagi membuat Inga terkekeh.
“di
Indonesia tuh gak ada drama kali Ga.” Katanya. “adanya sinetron yang tayangnya
tiap hari dan gak tamat-tamat ampe ribuan episode.” Sambungnya. “ampe bosen
kali Ga tiap hari liatnya muka itu-itu aja.” Tambahnya.
“masa
sih?” Tanya gue tidak percaya. Gue jarang nonton TV jadi gak tau masalah
pertelevisian Indonesia.
“lah
emang lo gak tahu? lo gak suka nonton tv emang?” tanyanya.
“gue
sih kalau dirumah paling tidur kalau enggak maen PS sama ponakan gue.”
“pantesan.”
Ujar Inga sambil menganggukan kepalanya.
“nah
Nga ade gue juga suka nonton drama korea tuh, kalau ketemu pasti kalian klop
banget.” Kata gue yang inget Ridha ade gue yang hobinya ngabisin kuota internet
di rumah buat streaming drama korea.
“masa?”
tanyanya antusia. “lain kali kenalin ya lumayan dapet temen buat gosipin yang
cakep-cakep.” Katanya lagi sambil tersenyum senang.
Gue
mengangguk. “dia juga suka banget sama boyband-boyband
korea. Ampe ngebelain nabung buat beli apasih tuh namanya kayak tongkat-tongkat
yang nyala gitu?” tambah gue.
“stick light?” tanya Inga.
“iya
kali itu namanya gak tahu juga gue.”
“emang
ade lo suka boyband apa?”
“gak
tahu gue namanya. Tapi pokoknya ade gue bisa histeris teriak-teriak di kamar
kalau lagi nonton tuh cowok-cowok korea. Lo kayak gitu juga gak Nga?” tanyaku.
“enggak.”
Ujarnya sambil menggelengkan kepala. “gue cuma penikmat dramanya aja, gue gak
suka nonton boyband-boyband gitu.” Jelasnya, gue
menganggukan kepala tanda mengerti. “lain kali lo mau nonton gak?” tawar Inga.
“nonton
apa?” gue bingung.
“drama
korea, bareng gue deh biar lo tahu gimana bagusnya drama korea soalnya kalau cuma
gue jelasin pasti lo gak bakal percaya.” Katanya. “Sorry nih ya gue bukannya
mau bandingin drama korea sama sinetron Indonesia.” Ujar Inga. “tapi menurut
gue sinetron di Indonesia itu gak ada yang layak tonton.”
“kenapa?”
“gak
bagus aja. Beda sama drama korea. Lo nonton deh biar ngerti.”
“enggak
ah Nga, nanti gue diledekin alay lagi gara-gara nonton itu.”
“jadi
menurut lo gue alay dong?” tanyanya sambil cemberut, gue bingung harus jawab
apa yang membuat inga lebih mengerucutkan bibirnya. “lu sama aja kayak Ugi.”
Ujarnya.
“enak
aja gue disamain sama si kampret itu.” Kata gue.
“kenapa
sih kok kayaknya lo sama Ben gak suka banget sama Ugi?” tanyanya.
“urusan
cowok, cewek gak perlu tahu.” kata gue membuat Inga kembali mengerucutkan
bibir. Inga gemesin banget kalau lagi manyun gitu. “loe sejak kapan pacaran
sama si Ugi?” gue bukannya kepo ya, gue cuma penasaran.
“udah
dua tahun.” Katanya kemudian mengambil mochalatte
yang ada dihadapannya.
“kenapa
mau pacaran sama si kampret itu?” tanya gue lagi. bolehkan gue penasaran?
“karena
Ugi baik.” Jawabnya.
“kampret
kaya gitu lu bilang baik?” gue berdecak sambil geleng-geleng kepala. “lu buta
yah Nga?”
“lah
emang Ugi kenapa?” tanyanya. “dia gak ngerokok, dia pinter, dia soleh, gak suka
ngomong kasar, dia juga perhatian sama gue.” Jawabnya yang seketika membuat gue
bungkam karena gue mau gak mau harus rela mengiyakan itu semua. Inga emang
benar, Ugi adalah cowok terlurus di sekolah gue. Gak pernah macem-macem, taat
aturan juga yang ngebuat dia laporin gue yang ikut tawuran ke guru ampe gue dan
temen-temen gue dikeluarin dari tim basket.
“iya
sih Ugi emang cowok lurus.”
“tapi
dia udah berubah Ga.” Ujarnya, nada bicaranya sedih.
“dia
berubah gimana?”
“gak
kaya dulu aja Ga, jarang ngasih gue kabar terus kalau ketemu juga dia lebih banyak
sibuk sama Hpnya sedangkan gue diacuhin aja. Kalau gue tegur malah gue yang
dimarahin, kalau gue marah dia tambah marah ujung-ujungnya kita berantem,
ujung-ujungnya gue yang harus minta maaf. Gue ngerasa Ugi udah gak sayang aja
sama gue.”
“perasaan
lo aja kali Nga.” Ujar gue.
“gue
juga awalnya mikir gitu, tapi sekarang Ugi malah semakin berubah. Udah seminggu
dia gak hubungin gue Ga. Lupa kali ya dia kalau gue pacarnya.” Katanya sedih
membuat gue jadi ikut sedih. Kenapa lihat wajah Inga yang sedih seperti ini
membuat hati gue sedikit sakit? “Ga Sorry
ya gue jadi curhat gini sama lo.” Katanya.
“gapapa
Nga.” Kata gue. “gue seneng kali lo mau terbuka sama gue kayak gini.”
“balik
yuk?” ajak Indah kepada gue dan Inga. Inga mengangguk kemudian berdiri dari tempatnya
tadi duduk. “Ga, lo yang anterin Inga ya?” tanya Indah saat kami sedang
berjalan menuju pintu keluar cafe. “gue harus cepet pulang mobil mau di pake
bokap.” Sambungnya.
“terus
gimana Ben?” tanya gue.
“Ben
pulang sama gue. Kan rumah kita searah, kalau gue nganterin Inga dulu gue harus
muter.” Ujar Indah.
“ya
udah sip.” Kata gue sambil tersenyum senang.
Selama
perjalanan mengantar Inga, gue dan dia kembali lagi ngobrol tentang banyak hal.
Gue seneng banget dengerin suara Inga, suara Inga tuh nenangin banget, kalau
Inga ketawa entah kenapa gue juga jadi pengen ikut ketawa, ketawanya Inga nular
sama gue.
“Thank
buat tumpangannya.” Kata Inga sambil ngelepasin seatbelt.
“lo
gak usah bilang makasih Nga.” Kata gue. “soalnya nanti gue pasti bakal minta lo
ngebales ini.” Sambung gue sambil tertawa yang dia balas dengan mengerjitkan
hidungnya. “Nga gue anter ampe depan rumah lo ya?” tanya gue sesaat sebelum
Inga ngebuka pintu mobil gue. “dan gue gak mau lo nolak.” Tambah gue sebelum
Inga menolak.
“yaudah
kalau lo maksa.” Kata Inga sambil tersenyum. Gue langsung ngebuka pintu mobil
lalu keluar dan langsung nyusul Inga yang udah jalan duluan.
“Nga
lo kalau butuh apa-apa kasih tau gue ya!” kata Gue, Inga yang lagi jalan
disamping gue langsung melirik kearah gue.
“emang
gapapa kalau gue ngasih tau lo?” tanyanya.
“gapapa
kan kita temenan.” Ujar gue sambil melirik Inga. Dia tersenyum waktu gue bilang
gitu. Inga cantik banget pas lagi senyum kayak gitu.
~~~~
Gak
kerasa gue sama Inga udah kenal lebih dari enam bulan sekarang. Gue sama Inga
sekarang lebih sering jalan berdua, bukan jalan kayak yang lagi pacaran sih
paling gue dan dia jalannya kalau Inga lagi butuh temen buat nemenin ke toko
buku atau butuh temen buat makan siang kalau lagi libur. Inga itu ternyata suka
motret juga jadi kadang-kadang dia sering ngajak gue ke tempat yang
pemandangannya indah buat diambil gambarnya. Gue sih seneng-seneng aja kalau
Inga ngajak keluar, walaupun gue gak bisa jadi pacar Inga tapi dengan deket
kaya gini aja gue udah seneng banget. Liat muka Inga ketawa sama senyum di
depan gue aja itu udah cukup buat gue. Gue gak mau gak tahu diri dengan
ngarepin milikin Inga karena gue tahu Inga masih pacaran sama si Ugi kampret
itu. Dan gue sadar kalau Inga itu sayang banget sama si kampret itu ampe dia
rela diabaikan sama si Ugi. Dan dateng lagi ke Inga pas ada butuhnya aja.
“eh
Ga sini coba liat.” Katanya sambil menunjuk sebuah bunga yang tidak jauh dari tempat
dia berdiri. “bagus banget ya?” tanyanya sambil tersenyum.
“lo
suka Nga?” tanya gue, dia mengangguk antusias.
“cantik
banget Ga.”
“iya
Nga lo emang cantik banget.” Kata gue sambil mandangin Inga. Sumpah nih cewek
cantiknya gak ketulungan.
“hah?”
ujar Inga. “lo ngomong apa tadi?”
“bunganya
cantik banget.” Kata gue. Inga tersenyum kepada gue kemudian dia merangkul
lengan gue terus gue ditarik ketempat lain.
“Ga
lo gak punya pacar ya?” Tanya Inga tiba-tiba.
“enggak.
Emang kenapa?”
“kok
bisa?” tanyanya lagi.
“gak
tahu. lagi gak pengen pacaran aja.” Jawab Gue.
“kata
Indah lo playboy, bener gak?”
“enggak
lah Nga, gue bukan playboy kok cuma cewek-cewek emang banyak yang deketin gue.”
Kata gue. “biasalah cowok ganteng emang suka banyak fansnya.”
“idih
lo pede banget.” Inga meringis kemudian tertawa.
“lo
belum liat aja Nga pesona gue.” Kata gue sambil tersenyum. “kalau lo udah liat
pesona gue loe siap-siap aja Nga, soalnya gak ada yang bisa selamet kalau udah
jatuh cinta sama gue.” Kata gue lagi. Inga ketawa keras banget.
“ya
udah gue tunggu deh ampe lo ngeluarin semua pesona lo sama gue.” Katanya
setelah tawanya reda. “gue juga penasaran sama pesona dari seorang Aga.” Dia
kemudian tertawa lagi. “tapi kayaknya sekeras apapun lo ngeluarin pesona lo ke
gue gak akan ngaruh buat gue Ga. Cinta gue udah habis semua buat Ugi.” Katanya
lagi sambil tertawa. Sakit banget gue denger Inga ngomong kayak gitu, rasanya
secara gak langsung Inga nolak gue.
~~~
“Ga, lo bisa kesini gak?” Gue baru bangun
tidur jadi gak terlalu jelas dengerin Inga ngomong. “Aga.” Ujarnya sangat lirih. Inga lagi nangis sekarang, kenapa dia
nangis? Mata gue langsung melek. Gue liat jam di HP gue. Kaget pas liat
ternyata ini masih malem. Gue langsung duduk tegak lalu ngedeketin HP gue ke
telinga.
“Nga
lo nangis?” tanya gue tapi Inga gak jawab. Yang gue denger hanya isakan Inga.
“lo dimana sekarang? Gue langsung kesana. Lo jangan kemana-mana.” Kata gue
sambil bangkit dari kasur nyaman gue terus ngambil jaket dan kunci mobil yang
gue taruh deket lampu di meja. Gue langsung ngarahin mobil gue ke taman deket
rumah Inga, dia lagi nunggu gue disana. Gue sangat khawatir karena ini udah
hampir tengah malem, gue takut hal buruk terjadi sama Inga. Lima belas menit
kemudian gue akhirnya nyampe juga, gue langsung turun dari mobil terus lari dan
disana gue liat Inga yang lagi jongkok sambil nangis deket ayunan. Gue jalan
pelan biar gak bikin Inga kaget.
“Nga
lo kenapa?” gue berjongkok depan Inga. Kepalanya mengdongkak lalu Inga natap
gue. Matanya bengkak.
“Ga,
gue putus sama Ugi.” Ujarnya sambil nangis. Gue sakit hati sekarang, bukan
karena liat Inga nangisin Ugi tapi karena gak tahan denger isakan yang Inga
keluarin. “ternyata selama ini dia selingkuhin gue Ga.” Katanya lagi, Inga
semakin terisak. “dia khianatin gue Ga.” Katanya lagi.
“lo
yakin Ugi selingkuhin lo?” tanya Gue sambil memakaikan Inga jaket gue. Inga gak
pake jaket sama sekali bikin gue khawatir aja.
“tadi
gue ke toko buku sama Ibu. Gue liat Ugi sama cewek Ga, gandengan tangan.”
Katanya. “gue gak enak kalau datengin Ugi soalnya ada Ibu jadi gue diem aja.”
Katanya sambil sesenggukan. “pas nyampe rumah gue telpon dia tapi gak diangkat
Ga. Gue kirim BBM nanya dia dimana tapi cuma di read aja.” Katanya lagi. “karna
gue kesel gue langsung BBM dia bilang kalau gue liat dia sama cewek di toko
buku. Akhirnya dia bales buat ngajak ketemu.” Ujarnya. “tadi jam sembilan Ugi
ke rumah terus dia ngaku kalau ternyata dia emang udah punya pacar baru Ga, dia
bilang dia jenuh sama gue.” Inga semakin gak bisa nahan air matanya. “dia
ninggalin gue Ga, dia putusin gue yang dua tahun lebih jadi pacarnya dan lebih
milih selingkuhannya.” Inga menjatuhkan wajahnya di telapak tangannya. Hati gue
bener-bener sakit liat Inga nangis kayak gini. emosi gue memuncak saat denger
Inga ngomong gitu. Dasar brengsek, gue bakal hajar si kampret itu besok.
“Nga
lo jangan nangis dong.” Kata gue karena bener-bener gak tega liat Inga terus
nangis, tapi Inga gak dengerin gue. Dia malah semakin terisak. Si ugi
bener-bener keterlaluan bikin Inga yang setia banget sama dia nangis kayak
gini. Gue mengusap punggung Inga lembut, gue gak tahu harus lakuin apa buat
bikin Inga berhenti nangis. “Nga pulang yuk?” ajak gue. “ibu lo pasti nyariin,
lagian ini udah malem nanti lo masuk angin.” Bujuk gue. Inga akhirnya
mendongkak lagi dan tangisannya udah lumayan mereda.
“Ga
makasih lo mau nemenin gue.” Katanya pelan. “maafin gue bikin lo dateng
jauh-jauh cuma buat nemenin gue nangis kayak gini.”
“Nga
lo gak perlu minta maaf. Kan gue udah bilang lo kalau butuh bantuan apapun
tinggal ngomong aja sama gue. Lo nyuruh gue buat hajar si Ugi aja gue mau Nga.”
Kata Gue lagi.
“jangan.”
Kata Inga. “lo jangan ngehajar Ugi. Gue gak mau bikin lo sama Ugi malah semakin
musuhan gara-gara masalah gue.”
“tapi
dia udah nyakitin lo Nga.” Kata Gue. “dia bikin lo nangis.”
“gapapa
Ga.” Ujar Inga. “janji ya lo gak bakal ngehajar Ugi?” tanyanya sambil ngangkat
jari kelingkingnya kearah gue.
“lo
masih bisa ya Nga khawatir sama cowok brengsek itu?” kata gue kesal.
“jadi
lo gak mau janji sama gue Ga?” tanyanya sedih. Gue gak tega liatnya.
“ya
udah gue janji.” Kata gue akhirnya. Inga sedikit tersenyum. “Nga lo jangan
nangis lagi ya?” tanya gue, Inga mengangguk. Kemudian gue bantu Inga berdiri
lalu nganterin Inga pulang ke rumahnya.
“Aga.”
Ujar Inga saat gue mau pulang. “makasih banget.” Gue mengangguk sambil
tersenyum kearah Inga. “hati-hati.” Gue mengangguk lagi kemudian Inga masuk
kedalam rumahnya dan gue langsung pergi dari rumahnya Inga. Gue sedih liat
Inga, gue sedih karena ternyata Inga sayang banget sama Ugi, gue sedih karena
gak bisa meluk Inga pas Inga nangis kayak gitu. Gue sedih karena setelah liat
Inga menangis tadi gue jadi sadar bahwa hati Inga memang udah sepenuhnya buat
Ugi. Dan saat itu gue sadar bahwa Inga sampai kapanpun gak akan bisa jadi milik
gue.
Gue
baru sadar ternyata cinta itu bisa terjadi bahkan tanpa ada respon positif dari
salah satu pihak. Gue baru sadar bahwa cinta gak harus tumbuh karena udah
saling mengenal. Gue baru sadar bahwa ketika berani jatuh cinta itu berarti lo
harus berani juga buat rasain sakitnya. Inga pernah bilang ke gue kalau cinta
itu seperti bunga mawar yang akan membahagiakan kita karena wanginya yang harum
dan warnanya yang indah namun akan menyakiti kita jika kita tidak sengaja
tertusuk durinya. Bagi gue Inga adalah mawar itu, gue selalu bahagia ketemu
Inga, bahagia liat Inga tersenyum dan tertawa di hadapan gue tapi disaat yang
sama hati gue sakit karena Inga bukan milik gue, hati gue sakit saat Inga
selalu menceritakan Ugi dengan antusias. Dari Inga gue belajar artinya ikhlas
dalam mencintai.
