Total Tayangan Halaman

Rabu, 23 Maret 2016

cerita pendek - untitled



Kesan pertama yang gue bilang saat ada seorang teman yang mengatakan dia sedang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada seorang cewek yang baru dia lihat adalah “Bullshit”. Maksud gue adalah bagaimana bisa seseorang jatuh cinta kepada orang yang sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya. Setidaknya harus ada proses yang menjadikan seseorang jatuh cinta. Misalkan lu deket sama cewek terus cewek itu baik banget dan perhatian sama lu dan lama-lama lu ngerasa suka dan akhirnya jatuh cinta. Nah kalau kayak gitu baru gue percaya karna jelas proses dan alasannya. Menurut gue setidaknya cinta itu akan muncul saat dua orang saling memberikan perasaan positif terhadap satu sama lain. Tapi jatuh cinta pada pandangan pertama? Hanya orang melankolis yang dapat mempercayai itu semua. Itu adalah hal yang akan gue katakan kepada seorang teman yang ngajak gue buat debat tentang cinta pada pandangan pertama, gue sama sekali tidak percaya dengan hal itu. Itu tidak ilmiah, alasan yang selalu gue katakan kepada Ben sahabat gue yang selalu bilang bahwa dia jatuh cinta kepada setiap wanita yang dia temui di mall, di bioskop atau di tempat umum lainnya. Gue selalu meledek jika dia kembali mengulang kata itu lagi. Tapi sekarang gue seakan termakan oleh semua omangan gue sendiri saat melihat seorang cewek cantik yang baru saja memasuki pintu cafe yang menjadi tempat gue dan Ben sekarang nongkrong. Gue terpaku saat melihat cewek itu berjalan mengekor dibelakang satu cewek lagi yang berjalan di depannya. Mata gue terus mengikuti cewek itu yang sekarang berjalan kearah meja gue. Dia berjalan kearah gue membuat jantung gue tiba-tiba terkena serangan jantung mendadak. Apakah hal ini juga yang selalu Ben alami saat dia bilang dia sedang jatuh cinta pada pandangan pertama?
“Benny.” Ujar lembut cewek yang tadi berjalan mendahului cewek cantik itu. Dia memanggil nama Ben sahabat gue. Jadi dia benar-benar berjalan kearah gue tadi? “sorry aku telat.” Ujarnya lagi sambil tersenyum kepada Benny.
“gapapa kok, aku juga baru dateng.” Jawab Ben sambil membalas senyuman manis cewek itu kemudian menyuruh mereka berdua duduk, dia duduk tepat dihadapan gue. Sepertinya cewek itu adalah pacar baru Ben. Kami disini karena Ben dan pacarnya janjian untuk ketemuan. Tapi siapa cewek satu lagi? apa Ben mengenalnya juga? “nyon kenalin ini temenku Aga.” Sambung Ben sambil menepuk bahu gue.
“aku indah.” Sapa pacar Ben sambil mengulurkan tangannya. “Benny sering cerita tentang kamu.” Sambungnya sambil sedikit terkekeh membuat gue curiga Ben membicarakan hal yang bukan-bukan tentang gue.
“Aga.” Balas gue sambil menyambut uluran tangan indah.
 “oh iya ini Inga, aku ngajak dia ikut soalnya dia lagi galau gara-gara berantem sama pacarnya.” Katanya setelah melepaskan tangan gue. Gue sedikit kecewa karna cewek cantik bernama Inga ini ternyata udah punya pacar. “gue takut dia ngelakuin hal yang enggak-enggak kalau ditinggalin. Gapapa kan Ben?” katanya lagi dengan nada meledek kepada Inga yang dibalas anggukan oleh Ben.
“apaan sih ndah. Gue gak galau ya gue Cuma kesel aja.” Kata Inga cemberut. Inga kemudian melihat kepada Ben. “gue inga.” Sapanya sambil mengulurkan tangan kepada Ben kemudian dia melihatku setelah Ben melepaskan jabatan tangannya. “Inga.” Ujarnya lembut sambil mengulurkan tangannya kepada gue, dan dia tersenyum sangat sangat manis membuat gue berpikir bahwa mungkin cewek cantik yang duduk dihadapan gue ini sebenarnya adalah seorang bidadari yang sedang menyamar menjadi sahabatnya Indah. Setelah proses saling kenalan dan jabat tangan kami langsung memesan minum dan terus berbincang-bincang. Inga banyak tertawa karena mendengar celetukan atau candaan yang Ben lontarkan, sedangkan gue banyak tersenyum karena senang melihat ada cewek cantik dihadapan gue.
“eh kalian anak taruna baktikan?” tanya Indah membuat gue sedikit tersentak. Tadi gue lagi curi-curi pandang sama Inga. “pasti kenal dong sama Ugi.” Katanya lagi.
“anak basket?” tanya Ben yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Indah. “kamu kok kenal sih sama si Ugi?” sambung Ben, nada bicaranya sedikit berubah setelah mendengar nama Ugi disebut. Bagaimana tidak, si Ugi itu adalah kakak kelas kami yang pernah membuat gue, Ben, dan dua orang lagi teman kami harus dikeluarkan dari tim basket sekolah setahun yang lalu. Hal itulah yang membuat gue dan Ben bermusuhan dengannya sampai sekarang.
“dia pacarnya Inga.” Kata Indah membuatku semakin kecewa. Kenapa dari semua cowok yang ada didunia harus orang itu yang menjadi pacar cewek yang membuat gue jatuh cinta pada pandangan pertama untuk pertama kalinya.
                                                                        ~~~
Salah satu hal yang paling nyebelin di dunia ini adalah saat lo jatuh cinta sama cewek tapi ternyata cewek itu udah punya cowok dan parahnya cowok itu adalah musuh lo sendiri. Gue sadar gue bener-bener jatuh cinta pada pandangan pertama ke Inga yaitu karena setelah gue pulang dari cafe yang menjadi tempat bersejarah pertemuan gue dan Inga itu gue sama sekali gak bisa ngelupain wajah cantik Inga, caranya tersenyum, caranya tertawa, tatapan matanya saat ngeliat gue ngomong pokoknya semua hal yang Inga lakuin saat itu bener-bener terekam oleh otak gue. Dan setelah hari itu intensitas gue bertemu dengan Inga bisa dibilang sering, karena biasanya baik Inga maupun gue sama-sama suka ngekorin Ben dan Indah pacaran. Bukannya gue gak ada kerjaan lain hingga mau ngikutin orang yang pacaran tapi karena Ben dan Indah selalu aja ngajak gue kalau mereka mau kencan. Gue sih mau-mau aja karena gue tahu pasti Inga juga bakal ikut jadi gue mau aja sekalian nonton gratis di bayarin mereka dan bisa mandangin wajah cantik Inga sepuasnya dan yang paling penting gue bisa banyak ngobrol sama Inga.
Selama tiga bulan terakhir ini gue udah memperhatikan Inga, dari mulai cara ngomongnya ampe cara berpikir Inga dan selama tiga bulan terakhir ini juga gue bisa kenal Inga lebih jauh. Gue tahu tanggal lahir Inga, gue tahu hobi Inga, gue tahu film favorit Inga, gue tahu Inga ngefans banget sama Shinici Kudou, gue tahu Inga suka banget sama Ika Natassa (gue gak tahu siapa dia), gue tahu Inga cewek yang enak di ajak ngobrol, gue tahu Inga gak suka sama cowok yang ngerokok (membuat gue bertekad untuk tobat dari ngisep rokok), dan sekarang gue baru tahu kalau Inga ternyata penggila drama Korea yang sekarang lagi menjajah kaula muda Indonesia.
“jadi kenapa Lo suka nonton drama korea?” tanya gue setelah Inga bilang dia lagi nonton drama korea yang judulnya mirip sama tokoh dongeng anak-anak.
“karena ceritanya bagus.” Jawabnya tegas. Gue dan Inga sekarang duduk berhadapan disebuah Cafe, disebelah gue ada Ben yang juga lagi ngobrol sama Indah yang duduk disamping Inga. “ceritanya mendidik dan menurut gue sih banyak ngasih hal-hal positif yang bisa kita pelajarin.”
“emang di Indonesia gak ada drama yang bagus ampe jauh-jauh nonton drama negeri lain?” tanya gue lagi membuat Inga terkekeh.
“di Indonesia tuh gak ada drama kali Ga.” Katanya. “adanya sinetron yang tayangnya tiap hari dan gak tamat-tamat ampe ribuan episode.” Sambungnya. “ampe bosen kali Ga tiap hari liatnya muka itu-itu aja.” Tambahnya.
“masa sih?” Tanya gue tidak percaya. Gue jarang nonton TV jadi gak tau masalah pertelevisian Indonesia.
“lah emang lo gak tahu? lo gak suka nonton tv emang?” tanyanya.
“gue sih kalau dirumah paling tidur kalau enggak maen PS sama ponakan gue.”
“pantesan.” Ujar Inga sambil menganggukan kepalanya.
“nah Nga ade gue juga suka nonton drama korea tuh, kalau ketemu pasti kalian klop banget.” Kata gue yang inget Ridha ade gue yang hobinya ngabisin kuota internet di rumah buat streaming drama korea.
“masa?” tanyanya antusia. “lain kali kenalin ya lumayan dapet temen buat gosipin yang cakep-cakep.” Katanya lagi sambil tersenyum senang.
Gue mengangguk. “dia juga suka banget sama boyband-boyband korea. Ampe ngebelain nabung buat beli apasih tuh namanya kayak tongkat-tongkat yang nyala gitu?” tambah gue.
stick light?” tanya Inga.
“iya kali itu namanya gak tahu juga gue.”
“emang ade lo suka boyband apa?”
“gak tahu gue namanya. Tapi pokoknya ade gue bisa histeris teriak-teriak di kamar kalau lagi nonton tuh cowok-cowok korea. Lo kayak gitu juga gak Nga?” tanyaku.
“enggak.” Ujarnya sambil menggelengkan kepala. “gue cuma penikmat dramanya aja, gue gak suka nonton boyband-boyband gitu.” Jelasnya, gue menganggukan kepala tanda mengerti. “lain kali lo mau nonton gak?” tawar Inga.
“nonton apa?” gue bingung.
“drama korea, bareng gue deh biar lo tahu gimana bagusnya drama korea soalnya kalau cuma gue jelasin pasti lo gak bakal percaya.” Katanya. “Sorry nih ya gue bukannya mau bandingin drama korea sama sinetron Indonesia.” Ujar Inga. “tapi menurut gue sinetron di Indonesia itu gak ada yang layak tonton.”
“kenapa?”
“gak bagus aja. Beda sama drama korea. Lo nonton deh biar ngerti.”
“enggak ah Nga, nanti gue diledekin alay lagi gara-gara nonton itu.”
“jadi menurut lo gue alay dong?” tanyanya sambil cemberut, gue bingung harus jawab apa yang membuat inga lebih mengerucutkan bibirnya. “lu sama aja kayak Ugi.” Ujarnya.
“enak aja gue disamain sama si kampret itu.” Kata gue.
“kenapa sih kok kayaknya lo sama Ben gak suka banget sama Ugi?” tanyanya.
“urusan cowok, cewek gak perlu tahu.” kata gue membuat Inga kembali mengerucutkan bibir. Inga gemesin banget kalau lagi manyun gitu. “loe sejak kapan pacaran sama si Ugi?” gue bukannya kepo ya, gue cuma penasaran.
“udah dua tahun.” Katanya kemudian mengambil mochalatte yang ada dihadapannya.
“kenapa mau pacaran sama si kampret itu?” tanya gue lagi. bolehkan gue penasaran?
“karena Ugi baik.” Jawabnya.
“kampret kaya gitu lu bilang baik?” gue berdecak sambil geleng-geleng kepala. “lu buta yah Nga?”
“lah emang Ugi kenapa?” tanyanya. “dia gak ngerokok, dia pinter, dia soleh, gak suka ngomong kasar, dia juga perhatian sama gue.” Jawabnya yang seketika membuat gue bungkam karena gue mau gak mau harus rela mengiyakan itu semua. Inga emang benar, Ugi adalah cowok terlurus di sekolah gue. Gak pernah macem-macem, taat aturan juga yang ngebuat dia laporin gue yang ikut tawuran ke guru ampe gue dan temen-temen gue dikeluarin dari tim basket.
“iya sih Ugi emang cowok lurus.”
“tapi dia udah berubah Ga.” Ujarnya, nada bicaranya sedih.
“dia berubah gimana?”
“gak kaya dulu aja Ga, jarang ngasih gue kabar terus kalau ketemu juga dia lebih banyak sibuk sama Hpnya sedangkan gue diacuhin aja. Kalau gue tegur malah gue yang dimarahin, kalau gue marah dia tambah marah ujung-ujungnya kita berantem, ujung-ujungnya gue yang harus minta maaf. Gue ngerasa Ugi udah gak sayang aja sama gue.”
“perasaan lo aja kali Nga.” Ujar gue.
“gue juga awalnya mikir gitu, tapi sekarang Ugi malah semakin berubah. Udah seminggu dia gak hubungin gue Ga. Lupa kali ya dia kalau gue pacarnya.” Katanya sedih membuat gue jadi ikut sedih. Kenapa lihat wajah Inga yang sedih seperti ini membuat hati gue sedikit sakit? “Ga Sorry ya gue jadi curhat gini sama lo.” Katanya.
“gapapa Nga.” Kata gue. “gue seneng kali lo mau terbuka sama gue kayak gini.”
“balik yuk?” ajak Indah kepada gue dan Inga. Inga mengangguk kemudian berdiri dari tempatnya tadi duduk. “Ga, lo yang anterin Inga ya?” tanya Indah saat kami sedang berjalan menuju pintu keluar cafe. “gue harus cepet pulang mobil mau di pake bokap.” Sambungnya.
“terus gimana Ben?” tanya gue.
“Ben pulang sama gue. Kan rumah kita searah, kalau gue nganterin Inga dulu gue harus muter.” Ujar Indah.
“ya udah sip.” Kata gue sambil tersenyum senang.
Selama perjalanan mengantar Inga, gue dan dia kembali lagi ngobrol tentang banyak hal. Gue seneng banget dengerin suara Inga, suara Inga tuh nenangin banget, kalau Inga ketawa entah kenapa gue juga jadi pengen ikut ketawa, ketawanya Inga nular sama gue.
“Thank buat tumpangannya.” Kata Inga sambil ngelepasin seatbelt.
“lo gak usah bilang makasih Nga.” Kata gue. “soalnya nanti gue pasti bakal minta lo ngebales ini.” Sambung gue sambil tertawa yang dia balas dengan mengerjitkan hidungnya. “Nga gue anter ampe depan rumah lo ya?” tanya gue sesaat sebelum Inga ngebuka pintu mobil gue. “dan gue gak mau lo nolak.” Tambah gue sebelum Inga menolak.
“yaudah kalau lo maksa.” Kata Inga sambil tersenyum. Gue langsung ngebuka pintu mobil lalu keluar dan langsung nyusul Inga yang udah jalan duluan.
“Nga lo kalau butuh apa-apa kasih tau gue ya!” kata Gue, Inga yang lagi jalan disamping gue langsung melirik kearah gue.
“emang gapapa kalau gue ngasih tau lo?” tanyanya.
“gapapa kan kita temenan.” Ujar gue sambil melirik Inga. Dia tersenyum waktu gue bilang gitu. Inga cantik banget pas lagi senyum kayak gitu.
                                                                        ~~~~
Gak kerasa gue sama Inga udah kenal lebih dari enam bulan sekarang. Gue sama Inga sekarang lebih sering jalan berdua, bukan jalan kayak yang lagi pacaran sih paling gue dan dia jalannya kalau Inga lagi butuh temen buat nemenin ke toko buku atau butuh temen buat makan siang kalau lagi libur. Inga itu ternyata suka motret juga jadi kadang-kadang dia sering ngajak gue ke tempat yang pemandangannya indah buat diambil gambarnya. Gue sih seneng-seneng aja kalau Inga ngajak keluar, walaupun gue gak bisa jadi pacar Inga tapi dengan deket kaya gini aja gue udah seneng banget. Liat muka Inga ketawa sama senyum di depan gue aja itu udah cukup buat gue. Gue gak mau gak tahu diri dengan ngarepin milikin Inga karena gue tahu Inga masih pacaran sama si Ugi kampret itu. Dan gue sadar kalau Inga itu sayang banget sama si kampret itu ampe dia rela diabaikan sama si Ugi. Dan dateng lagi ke Inga pas ada butuhnya aja.
“eh Ga sini coba liat.” Katanya sambil menunjuk sebuah bunga yang tidak jauh dari tempat dia berdiri. “bagus banget ya?” tanyanya sambil tersenyum.
“lo suka Nga?” tanya gue, dia mengangguk antusias.
“cantik banget Ga.”
“iya Nga lo emang cantik banget.” Kata gue sambil mandangin Inga. Sumpah nih cewek cantiknya gak ketulungan.
“hah?” ujar Inga. “lo ngomong apa tadi?”
“bunganya cantik banget.” Kata gue. Inga tersenyum kepada gue kemudian dia merangkul lengan gue terus gue ditarik ketempat lain.
“Ga lo gak punya pacar ya?” Tanya Inga tiba-tiba.
“enggak. Emang kenapa?”
“kok bisa?” tanyanya lagi.
“gak tahu. lagi gak pengen pacaran aja.” Jawab Gue.
“kata Indah lo playboy, bener gak?”
“enggak lah Nga, gue bukan playboy kok cuma cewek-cewek emang banyak yang deketin gue.” Kata gue. “biasalah cowok ganteng emang suka banyak fansnya.”
“idih lo pede banget.” Inga meringis kemudian tertawa.
“lo belum liat aja Nga pesona gue.” Kata gue sambil tersenyum. “kalau lo udah liat pesona gue loe siap-siap aja Nga, soalnya gak ada yang bisa selamet kalau udah jatuh cinta sama gue.” Kata gue lagi. Inga ketawa keras banget.
“ya udah gue tunggu deh ampe lo ngeluarin semua pesona lo sama gue.” Katanya setelah tawanya reda. “gue juga penasaran sama pesona dari seorang Aga.” Dia kemudian tertawa lagi. “tapi kayaknya sekeras apapun lo ngeluarin pesona lo ke gue gak akan ngaruh buat gue Ga. Cinta gue udah habis semua buat Ugi.” Katanya lagi sambil tertawa. Sakit banget gue denger Inga ngomong kayak gitu, rasanya secara gak langsung Inga nolak gue.
                                                                        ~~~
Ga, lo bisa kesini gak?” Gue baru bangun tidur jadi gak terlalu jelas dengerin Inga ngomong. “Aga.” Ujarnya sangat lirih. Inga lagi nangis sekarang, kenapa dia nangis? Mata gue langsung melek. Gue liat jam di HP gue. Kaget pas liat ternyata ini masih malem. Gue langsung duduk tegak lalu ngedeketin HP gue ke telinga.
“Nga lo nangis?” tanya gue tapi Inga gak jawab. Yang gue denger hanya isakan Inga. “lo dimana sekarang? Gue langsung kesana. Lo jangan kemana-mana.” Kata gue sambil bangkit dari kasur nyaman gue terus ngambil jaket dan kunci mobil yang gue taruh deket lampu di meja. Gue langsung ngarahin mobil gue ke taman deket rumah Inga, dia lagi nunggu gue disana. Gue sangat khawatir karena ini udah hampir tengah malem, gue takut hal buruk terjadi sama Inga. Lima belas menit kemudian gue akhirnya nyampe juga, gue langsung turun dari mobil terus lari dan disana gue liat Inga yang lagi jongkok sambil nangis deket ayunan. Gue jalan pelan biar gak bikin Inga kaget.
“Nga lo kenapa?” gue berjongkok depan Inga. Kepalanya mengdongkak lalu Inga natap gue. Matanya bengkak.
“Ga, gue putus sama Ugi.” Ujarnya sambil nangis. Gue sakit hati sekarang, bukan karena liat Inga nangisin Ugi tapi karena gak tahan denger isakan yang Inga keluarin. “ternyata selama ini dia selingkuhin gue Ga.” Katanya lagi, Inga semakin terisak. “dia khianatin gue Ga.” Katanya lagi.
“lo yakin Ugi selingkuhin lo?” tanya Gue sambil memakaikan Inga jaket gue. Inga gak pake jaket sama sekali bikin gue khawatir aja.
“tadi gue ke toko buku sama Ibu. Gue liat Ugi sama cewek Ga, gandengan tangan.” Katanya. “gue gak enak kalau datengin Ugi soalnya ada Ibu jadi gue diem aja.” Katanya sambil sesenggukan. “pas nyampe rumah gue telpon dia tapi gak diangkat Ga. Gue kirim BBM nanya dia dimana tapi cuma di read aja.” Katanya lagi. “karna gue kesel gue langsung BBM dia bilang kalau gue liat dia sama cewek di toko buku. Akhirnya dia bales buat ngajak ketemu.” Ujarnya. “tadi jam sembilan Ugi ke rumah terus dia ngaku kalau ternyata dia emang udah punya pacar baru Ga, dia bilang dia jenuh sama gue.” Inga semakin gak bisa nahan air matanya. “dia ninggalin gue Ga, dia putusin gue yang dua tahun lebih jadi pacarnya dan lebih milih selingkuhannya.” Inga menjatuhkan wajahnya di telapak tangannya. Hati gue bener-bener sakit liat Inga nangis kayak gini. emosi gue memuncak saat denger Inga ngomong gitu. Dasar brengsek, gue bakal hajar si kampret itu besok.
“Nga lo jangan nangis dong.” Kata gue karena bener-bener gak tega liat Inga terus nangis, tapi Inga gak dengerin gue. Dia malah semakin terisak. Si ugi bener-bener keterlaluan bikin Inga yang setia banget sama dia nangis kayak gini. Gue mengusap punggung Inga lembut, gue gak tahu harus lakuin apa buat bikin Inga berhenti nangis. “Nga pulang yuk?” ajak gue. “ibu lo pasti nyariin, lagian ini udah malem nanti lo masuk angin.” Bujuk gue. Inga akhirnya mendongkak lagi dan tangisannya udah lumayan mereda.
“Ga makasih lo mau nemenin gue.” Katanya pelan. “maafin gue bikin lo dateng jauh-jauh cuma buat nemenin gue nangis kayak gini.”
“Nga lo gak perlu minta maaf. Kan gue udah bilang lo kalau butuh bantuan apapun tinggal ngomong aja sama gue. Lo nyuruh gue buat hajar si Ugi aja gue mau Nga.” Kata Gue lagi.
“jangan.” Kata Inga. “lo jangan ngehajar Ugi. Gue gak mau bikin lo sama Ugi malah semakin musuhan gara-gara masalah gue.”
“tapi dia udah nyakitin lo Nga.” Kata Gue. “dia bikin lo nangis.”
“gapapa Ga.” Ujar Inga. “janji ya lo gak bakal ngehajar Ugi?” tanyanya sambil ngangkat jari kelingkingnya kearah gue.
“lo masih bisa ya Nga khawatir sama cowok brengsek itu?” kata gue kesal.
“jadi lo gak mau janji sama gue Ga?” tanyanya sedih. Gue gak tega liatnya.
“ya udah gue janji.” Kata gue akhirnya. Inga sedikit tersenyum. “Nga lo jangan nangis lagi ya?” tanya gue, Inga mengangguk. Kemudian gue bantu Inga berdiri lalu nganterin Inga pulang ke rumahnya.
“Aga.” Ujar Inga saat gue mau pulang. “makasih banget.” Gue mengangguk sambil tersenyum kearah Inga. “hati-hati.” Gue mengangguk lagi kemudian Inga masuk kedalam rumahnya dan gue langsung pergi dari rumahnya Inga. Gue sedih liat Inga, gue sedih karena ternyata Inga sayang banget sama Ugi, gue sedih karena gak bisa meluk Inga pas Inga nangis kayak gitu. Gue sedih karena setelah liat Inga menangis tadi gue jadi sadar bahwa hati Inga memang udah sepenuhnya buat Ugi. Dan saat itu gue sadar bahwa Inga sampai kapanpun gak akan bisa jadi milik gue.
Gue baru sadar ternyata cinta itu bisa terjadi bahkan tanpa ada respon positif dari salah satu pihak. Gue baru sadar bahwa cinta gak harus tumbuh karena udah saling mengenal. Gue baru sadar bahwa ketika berani jatuh cinta itu berarti lo harus berani juga buat rasain sakitnya. Inga pernah bilang ke gue kalau cinta itu seperti bunga mawar yang akan membahagiakan kita karena wanginya yang harum dan warnanya yang indah namun akan menyakiti kita jika kita tidak sengaja tertusuk durinya. Bagi gue Inga adalah mawar itu, gue selalu bahagia ketemu Inga, bahagia liat Inga tersenyum dan tertawa di hadapan gue tapi disaat yang sama hati gue sakit karena Inga bukan milik gue, hati gue sakit saat Inga selalu menceritakan Ugi dengan antusias. Dari Inga gue belajar artinya ikhlas dalam mencintai.

Jumat, 18 Maret 2016

lirik lagu Lee Hi - Breathe + Terjemahan Inggris

Sumeul Keuge swieobwayo
dangsinui gaseum yangjjogi jeorige
jogeumeun apaol ttaekkaji
sumeul deo baeteobwayo
dangsinul ane nameun geu eobtdago
neukkyeojil ttaekkaji

sumi beokcha-ollado gwaenchanhayo
amudo geudael tathajin anha
gaekkeumeun silsuhaedo dwae
nugudeun geuraesseunikka
gwaenchan-daneun mal
malppunin wirojiman

nugungaui hansum
geu mugeoun sumeul
naega eotteohke hearil suga
isseulkkayo

dangsinul hansum
geu gipil ihaehal sun eobtgettjiman
gwaenchanhayo
naega anajulgeyo


sumi beokcha-ollado gwaenchanhayo
amudo geudael tathajin anha
gaekkeumeun silsuhaedo dwae
nugudeun geuraesseunikka
gwaenchan-daneun mal
malppunin wirojiman

nugungaui hansum
geu mugeoun sumeul
naega eotteohke hearil suga
isseulkkayo

dangsinul hansum
geu gipil ihaehal sun eobtgettjiman
gwaenchanhayo
naega anajulgeyo

namdeul nunen him ppajineun
hansumeuro boiljin mollado
naneun algi ittjyo
jageun hansum naebaetgido
eoryeoun harureul bonaettdan geol

ije dareun saenggageun mayo
gipi sumeul swieobwayo geudaero
naebaeteoyo

nugungaui hansum
geu mugeoun sumeul
naega eotteohke hearil suga
isseulkkayo

dangsinul hansum
geu gipil ihaehal sun eobtgettjiman
gwaenchanhayo
naega anajulgeyo
jeongmal sugohaesseoyo

Translation

breathe in deeply
until both sides of your chest get numb
until they start to hurt a little

exhale more
that there's nothing left inside of you
until you feel like that

it's okay if your breath gets short
no one is blaming you
you can make mistakes from time to time
everyone else does too
if i tell you it's alright
i know that it's only words

when someone sighs
a breath as deep as that
how am i to understand it?

your sigh
even though i won't be able to
understand its depth, that's okay
i will embrace you

it's okay if your breath gets short
no one is blaming you
you can make mistakes from time to time
everyone else does too
if i tell you it's alright
i know that it's only words

when someone sighs
a breath as deep as that
how am i to understand it?

your sigh
even though i won't be able to
understand its depth, that's okay
i will embrace you

even though your sigh may seem
cheerless to others
 i know that
your day was so difficult that i was
hard for you to let out even a small sigh

don't think about anything else
breathe in deeply and exhale just like that

when someone sighs
a breath as deep as that
how am i to understand it?

your sigh
even though i won't be able to
understand its depth, that's okay
i will embrace you
Thank you so much for your hard work